Senin, 22 Juli 2013

BATUAN DAN TANAH

PEMBAHASAN

A.    BATUAN
Batuan adalah semua organik yang berada di dalam lapisan bumi. Material alam yang tersusun atas kumpulan mineral baik yang terkonsolidasi maupun yang tidak terkonsolidasi yang merupakan penyusun utama kerak bumi serta terbentuk sebagai hasil proses alam.
Jenis-jenis Batuan:

1.      Batuan Beku atau Batuan Magma adalah batuan yang terbentuk dari magma yang membeku. Magma merupakan benda cair yang sangat panas dan terdapat di perut bumi. Magma yang mencapai permukaan bumi disebut lava. Semula batuan beku berupa lelehan magma yang besar.
Jenis-jenis batuan beku:
a.       Batu Obsidasi
obsidian
Ciri-ciri dan manfaat:
Disebut juga batu kaca. Berwarna hitam atau coklat tua, permukaannya halus dan mengkilap. Digunakan untuk alat pemotong dan mata tombak. Batu obsidasi berasal dari magma yang membeku dengan cepat di permukaan bumi.
b.      Batu Granit
granite1
Ciri-ciri dan manfaat:
Tersusun atas butiran yang kasar. Ada yang berwarna putih dan ada yang berwarna keabu-abuan. Dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Batu granik berasal dari magma yang membeku di dalam kerak bumi. Proses pembekuan ini berlangsung secara perlahan. Jadi batu granik ini termasuk batuan beku dalam.

c.       Batu Basal
basalt1
Ciri-ciri dan manfaat:
Batu basal disebut juga batu lava. Berwarna hijau keabu-abuan dan terdiri dari butiran yang sangat kecil. Dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Batu basal berasal dari magma yang membeku di bawah lapisan kerak bumi, tercampur dengan gas sehingga berongga-rongga kecil.

d.      Batu Apung
floatstone
Ciri-ciri dan manfaat:
Batu apung berwarna coklat bercampur abu-abu muda dan berongga-rongga. Digunakan untuk mengampelas kayu dan sebagai bahan penggosok. Batu apung berasal dari magma yang membeku di permukaan bumi.
2.    Batuan Endapan atau Batuan Sedimen adalah batuan yang terbentuk dari endapan hasil pelapukan batuan. Batuan ini dapat pula terbentuk dari batuan yang terkikis atau dari endapan sisa-sisa binatang dan tumbuhan. Sifat-sifat batu endapan gembur seperti pasir pantai dan tanah liat yang bersifat membatu.
Jenis-jenis batu endapan:
a.       Batu Konglomerat
conglomerate1
Ciri-ciri dan manfaat:
Batu konglomerat terdiri atas kerikil-kerikil yang permukaannya tumpul. Batuan ini banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Batu konglomerat berasal dari endapan hasil pelapukan batuan beku.

b.      Batu Pasir
batu-pasir
Ciri-ciri dan manfaat:
Batu pasir terdiri atas butiran-butiran pasir berwarna abu-abu, merah, kuning, atau putih. Batuan ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Batu pasir berasal dari endapan hasil pelapukan batuan beku yang butirannya kecilkecil.

c.       Batu Kapur
batu-kapur
Ciri-ciri dan manfaat:
Batu kapur terdiri dari butiran-butiran kapur halus, berwarna putih agak keabu-abuan. Manfaat dari batu ini adalah sebagai bahan campuran pembuatan semen. Batu kapur berasal dari endapan hasil pelapukan tulang dan cangkang hewan-hewan laut.

d.      Batu Serpih
serpih
Ciri-ciri dan manfaat:
Batu serpih terdiri dari butiran-butiran batu lempung atau tanah liat, berwarna abu-abu kehijauan, merah, atau kuning. Batu ini dimanfaatkan untuk sebagai bahan bangunan. Batu serpih berasal dari endapan hasil pelapukan batuan tanah liat.

3.    Batuan Malihan atau Batuan Metamorf terjadi akibat proses metamorfosa suatu batuan sedimen melalui temperatur dan tekanan yang tinggi, atau batuan beku yang terbenam jauh didalam tanah. Batuan ini merupakan batuan yang mengalami perubahan yang dahsyat asalnya dapat dari batuan beku atau batuan sendimen. Perubahan itu dapat terjadi karena bermacam-macam sebab antara lain sebagai berikut:
1)        Karena suhu tinggi
Suhu tinggi berasal dari magma sebab batuan itu berdekatan dengan dapur magma, sehingga metamorfosa ini disebut metamorfosa kontak, contohnya : marmer dari batuan kapur, dan antrasit dari batubara.
2)        Karena tekanan tinggi
Tekanan tinggi dapat berasal dari adanya endapan-endapan yang tebal sekali diatasnya. Contohnya : batuan pasir dari pasir.
3)        Karena tekanan dan suhu tinggi
Tekanan dari suhu tinggi terjadi kalau ada pelipatan pembentukan penggunungan. Metamorfosa ini disebut metamorfosa dinamo. Contohnya : batu asbak, sclist, dan shale.

Jenis-jenis Batuan Malihan:
a.         Batu Marmer
marble1
Ciri-ciri dan manfaat:
Batu marmer berwarna putih dan ada yang hitam, keras, dan permukaannya halus. Marmer biasa digunakan untuk membuat meja, papan nama, dan pelapis dinding bangunan atau lantai. Batu marmer berasal dari batuan kapur yang mengalami metamorfosis karena panas dan tekanan.

b.        Batu Genes
Berasal dari batun granit yang telah berubah karena mendapat tekanan dan panas yang terus-menerus. Batuan ini memiliki ciri batuan yang berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan keras. Batuan ini di manfaatkan dalam pembuatan kerajinan seperti:
·       Asbal
·       Jambangan bunga
·       Patung

c.       Batu Sabak
Batu ini dibentuk oleh batuan sedimen yang memiliku butir halus yang berubah karena tekanan dan suhu yang tinggi. Ciri batuan ini adalah warna abu-abu tua dengan permukaan yang mudah terbelah dan kasar. Dulu sebelum kertas ditemukan, batua sabak digunakan sebagai papan untuk menulis.

d.      Batu Kuarsa
Batuan ini terbentuk dari batuan pasir yang mendapat tekanan dan suhu yang tinggi. Batuan ini berbentuk prisma segi enam dengan permukaan transparan yang memiliki warna beragam. Batu ini sering digunakan dalam pembuatan kaca atau kerajinan dan perhiasan.

B.     TANAH
Tanah merupakan hasil proses pelapukan dan merupakan campuran batuan-batuan lapuk dan humus. Humus adalah bahan yang dihasilkan oleh penghancuran sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang merupakan sumber hara (nutrient) yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Humus bercampur dengan lempung dan pasir, memperkaya bahan-bahan makanan dalam tanah. Bahan-bahan lain juga terdapat di dalam tanah, misalnya udara, air, dan makhluk hidup.
Bagaimana tanah terbentuk? Pembentukan tanah merupakan proses kompleks dan seringkali memakan waktu ribuan tahun. Tahap pertama dalam pembentukan tanah adalah pelapukan batuan. Batuan semacam itu merupakan bahan induk tanah. Tanah yang terbentuk secara langsung di atas bahan induknya disebut tanah residu yang mempunyai komposisi sama seperti batua induknya. Kadang-kadang angin dan air membawa partikel-partikel batuan terlapuk jauh dari bahan induknya. Tanah yang terbentuk dari bahan yang telah dipindahkan disebut tanah terpindah yang mungkin berbeda komposisi dengan batuan di bawahnya.
Selama tanah terbentuk, tanah menghasilkan lapisan-lapisan yang berbeda yang disebut horison. Horison-horison tanah berlainan warna, tekstur, dan komposisinya. Tanah yang sedang terbentuk tidak mempunyai horison-horison yang berbeda yang disebut tanah belum dewasa.Tanah telah terbentuk dalam jangka waktu cukup lama mempunyai horison-horison yang berbeda; tanah semacam itu disebut tanah dewasa.
Gambar 1 di samping menunjukkan penampang lintang tanah dewasa. Horison A biasanya disebut tanah atas. Tanah bagian atas kaya akan humus sehingga tanah ini berwarna gelap. Setelah hujan, air meresap melalui horison A. Mineral-mineral dan partikel-partikel lempung hanyut ke dalam lapisan-lapisan yang lebih rendah dalam proses yang menyebabkan horison-horison terbentuk.
lapisan-tanah










Horison B sering juga disebut tanah-bawah. Bahan-bahan yang dilindihkan dari horison A diendapkan di sini. Horison B kaya akan lempung. Humus dalam horison B ini lebih sedikit daripada humus dalam horison A yang biasanya berwarna coklat. Sedangkan horison C sebagian terbentuk dari pelapukan batuan yang terdiri dari permukaan batuan dasar yang rekah-rekah dan hancur.

Jenis-jenis Tanah
  1. Tanah Vulkanik
Tanah vulkanik adalah tanah hasil dari pelapukan abu vulkanik dan abu. Tanah Vulkanik banyak terdapat di lereng gunung berapi. Tanah ini terbentuk dari material abu yang tertinggal setelah terjadi letusan gunung berapi. Tanah ini bersifat sangat subur dan sangat cocok untuk bercocok tanam.
http://us.123rf.com/400wm/400/400/mihtiander/mihtiander1102/mihtiander110200044/8986565-yellow-plant-on-volcano-soil-volcano-agung-bali-indonesia-on-a-horizon.jpg
            Tanah vulkanik terdiri dari beberapa jenis :
a.       Tanah Regosol
Tanah regosol memiliki ciri-ciri seperti berbutir kasar dan berasal dari material gunung api, berwarna kelabu hingga kuning, dan memiliki kadar bahan organik yang rendah. Tanah regosol banyak terdapat di Pulau Sumatra, Jawa, dan Kepulauan Nusa Tenggara. Tanah regosol cocok untuk tanaman palawija, tembakau dan buah-buahan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhb8_h7gEF_IH8_3t_i0UTR9IysDHf_iS8qhu4DdRkcEkAw7ZJTPlDs1eSykO4MFuOFZuWtiIAzeE72tln4oNpQhPx9BWP85ZNyKyIrYk9mgVfC-NZHDIYCHh0qF_HxfelyEgKRka6J6LM/s1600/tanah+regosol.jpg



b.      Tanah Latosol
Tanah latosol bercirikan warna merah hingga kuning, kandungan bahan organik sedang, dan bersifat asam. Tanah latosol banyak terdapat di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Jawa, Bali, Minahasa, dan Papua. Tanah latosol cocok untuk tanaman padi, palawija, kelapa, karet, kopi, kelapa sawit dan buah-buahan.

  1. Tanah Organosol
Tanah organosol adalah tanah yang terbentuk dari bahan induk yang di dalamnya terkandung bahan organik dari hutan gambut dan tanah rawa. Di Indonesia terdapat beberapa jenis tanah organosol yang digunakan oleh masyarakat dalam kehidupannya, terutama dalam pertanian dan perkebunan yang menjadi mata pencaharian.
Macam tanah Organosol :
a.       Tanah Humus.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimktBbhTS00ZeQTARBhoHat9-t9dl3wifQR955XxmkZnwhNNBoBYW3YyZKWPi7wgabl9rPNtME6Y0LSCzTHYTDcUb7UO9e3uAHTKHLqOKaHBS0_1LfLL_l4XRrP_WAFln3oot8FeSGvcdh/s1600/Tanah+humus.jpg
Tanah humus adalah tanah hasil pembusukan bahan-bahan organik dan bersifat sangat subur. Tanah humus memiliki warna kecoklatan dan banyak terdapat di Sumatra, Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Tanah humus cocok untuk tanaman kelapa, nanas dan padi.

b.       Tanah Gambut.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgf73AB4ucHgoCVTF1bcJ597hx7Ss5Y3h2adZFbUJUuERBMOcJ-SYQRjDj4VjEOx0WJ4mniG6nQeCKNNjpI6JFGDU1mXwg-_xwPQJnYub4dcVX9Z3A2ZXINs8-__m8KtLLZLVuXRhuE2a3B/s1600/tanah+gambut.jpg
Tanah gambut adalah tanah hasil pembusukan yang kurang sempurna dari tumbuhan di daerah yang selalu tergenang air seperti rawa-rawa. Karena kekurangan unsur hara dan peredaran udara di dalamnya tidak lancar, proses penghancuran tanah ridak sempurna. Tanah jenid ini kurang baik untuk pertanian. Tanah gambut terdapat di pantai timur Sumatra, Kalimantan Barat, dan pantai selatan Papua. Tanah gambut kurang baik untuk pertanian karena selalu tergenang air.

3.      Tanah Aluvial
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVoR-7DvEe_FnbDNdH-UGZvz5KwW8GiSAGla0AHhwdpXg9aeYWe3gk9eIpmMF7XC70JGyh7kg6FoNnl-9blE_Pl-CqukaNHwDiz29IZdtL-s1tgRpGvKRruLCLAdTbnXdLMro7pZ5UOEc/s320/gggg.jpg
Tanah aluvial adalah tanah yang dibentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.
Aluvial ialah tanah muda yang berasal dari hasil pengendapan. Sifatnya tergantung dari asalnya yang dibawa oleh sungai. Tanah aluvial yang berasal dari gunung api umumnya subur karena banyak mengandung mineral. Tanah ini sangat cocok untuk persawahan. Penyebarannya di lembah-lembah sungai dan dataran pantai.
  
4.      Tanah Laterit.
http://geologicalintroduction.baffl.co.uk/wp-content/uploads/2009/02/laterite.jpg
Tanah laterit adalah tanah hasil pencucian atau tanah yang terjadi karena pengaruh suhu yang tinggi dan curah hujan tinggi sehingga kekurangan unsur hara, kurang subur, dan tandus. Berbagai mineral yang dibutuhkan tanaman larut dan meninggalkan sisa oksidasi besi dan aluminium. Tanah laterit memiliki warna kekuning-kuningan sampai merah. Tanah laterit banyak terdapat di Lampung, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara. Tanah laterik baik untuk kelapa dan jambu mete.

5.      Tanah Podzol.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/48/Podzol_-_geograph.org.uk_-_218892.jpg
Tanah podzol terbentuk karena pengaruh suhu rendah dan curah hujan yang tinggi. Tanah podzol bercirikan kandungan unsur haranya yang sangat miskin dan tidak subur. Warna tanah podzol mulai dari merah sampai kuning. Sifatya mudah basah, jika kena air tanah podzol menjadi subur. Tanah podzol banyak terdapat di daerah pegunungan tinggi di Sumatra, Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Tanah podzol baik untuk tanaman kepala dan jambu mete.

6.      Tanah Kapur.
Tanah kapur adalah hasil dari pembentukan dari pelapukan batuan gamping. Tanah kapur terdiri dari dua jenis yaitu :
a.       Mediteran.
Tanah mediteran adalah tanah hasil pembentukan batu kapur keras dan batuan sedimen. Tanah mediteran memiliki warna merah samapai coklat. Tanah mediteran banyak terdapat di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara. Tanah mediteran walaupun kurang subur namun cocok untuk tanaman palawija, tembakau, jati dan jambu mete.

b.      Renzina.
Tanah renzina adalah tanah hasil pelapukan batuan kapur di daerah yang memiliki curah hujan yang tinggi. Tanah renzina memiliki warna hitam dan miskin unsur hara. Tanah renzina banyak terdapat di daerah  bergamping seperti di Gunung Kidul, Yogyakarta.

7.      Tanah Pasir.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwPL5Bem2HZFsl7WMnt3vu6fV9ai4m6b4c1mYPA3QwTpZem0U-a28pnEmX80h684GvwsPJ2Jr_7yMl2UR0dClNdOXzjWPxF_1oLto-wWuyIS8uz0Yf6P9E6lH1HVACIAcpgbEZl0dUdkU/s1600/tanah+pasir.jpg
Tanah pasir adalah tanah hasil pelapukan batuan beku dan sedimen, dan tidak berstruktur. Tanah pasir kurang baik untuk daerah pertanian karena sedikit mengandung bahan organik.

8.      Tanah Padas.
http://v-images2.antarafoto.com/rp_ps_1289892904_re_455x263.jpg
Tanah padas adalah tanah yang amat padat karena mineral di dalamnya telah dikeluarkan oleh air yang terdapat di lapisan tanah di sebelah atasnya.


9.      Tanah Terrarosa.
http://www.wattlerange.sa.gov.au/webdata/resources/images/Terra_Rossa_Soil_profile.jpg
Tanah terrarosa adalah tanah yang terbentuk dari batuan kapur. Tanah ini terdapat di dasar dolina-dolina dan merupakan tanah pertanian yang subur di daerah batu kapur.

Dilihat dari segi kesuburannya, tanah dibedakan atas tanah muda, tua dan tanah mati.
1.    Tanah Muda.
Tanahnya banyak mengandung  zat makanan ( unsur haranya sangat baik ), udara dan air di dalamnya masih tetap terjaga. Tanah tersebut dalam keadaan gembur yang butirannya tidak teralu besar. Tanah ini banyak dijumpai di lereng gunung dan di sepanjang aliran sungai ( DAS ), serta berwarna abu-abu.
2.    Tanah Tua.
Tanah ini memiliki cukup makanan tetapi tidak segembur tanah muda, karena sering dipakai untuk berbagai jenis usaha pertanian dan perkebunan, sehingga bunga tanahnya atau kandungan zat makanan seperti unsur hara menjadi berkurang. Dan tanah ini mengalami erosi. Tanah ini padat dan berubah warna yang tadinya abu-abu menjadi coklat keabu-abuan.
3.    Tanah Mati.
Hampir seluruh unsur hara hilang, sehingga tanah akan kehilangan zat makanan. Dengan keadaan tanah yang dibiarkan ditumbuhi alang-alang maka tanahnya akan menjadi padat dan kritis, sehingga tanahnya menjadi merah atau merah muda.

Pengelolaan Tanah
Tanah mengandung air dan mineral yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk membuat makanan. Hewan secara langsung atau tidak langsung memerlukan tumbuhan sebagai sumber makanan. Sumber makanan manusia antara lain berasal dari tumbuhan dan hewan. Manusia mengelola tanah untuk menghasilkan bahan pangan. Oleh karena itu, tanah diperlukan makhluk hidup untuk mempertahankan keberadaannya.
Pengelolaan tanah mempunyai dua sasaran utama, yaitu pengendalian erosi dan pemeliharaan hara.
  1. Pengendalian erosi
Erosi dapat dikendalikan dengan berbagai cara, antara lain dengan enam cara berikut.
1)      Pembajakan minimum. Secara khas para petani membajak sawah mereka sebelum penanaman baru. Namun demikian, dengan peralatan khusus mereka dapat menanam secara langsung setelah panen. Cara ini telah dilaksanakan di daerah pertanian negara-negara maju.
2)      Pertanian kontur, yaitu cara bertani dengan penanaman sepanjang daerah-daerah datar yang mengikuti kotur tanah. Pertanian ini biasa dilakukan di daerah perbukitan. Arah barisan tanaman diatur menyilang terhadap aliran air yang searah kemiringan tanah.
3)      Penanaman dalam barisan, yaitu penanaman yang dibuat secara berbaris dan biasanya diselingi dengan barisan tanaman pelindung. Air bisa mengalir di antara barisan tanaman yang dibudidayakan, tetapi mengalami rintangan ketika melewati barisan tanaman pelindung, sehingga erosi dapat dikurangi.
4)      Terasering, yaitu penanaman dengan membuat teras yang biasanya dilakukan di daerah pegunungan. Pada lahan yang datar ditanami budidaya pertanian, sedangkan bagian lerengnya biasanya burmput ssebagai penahan erosi.
5)      Reklamasi selokan air, yaitu proses pengembalian lahan selokan air yang tererosi dengan menanami tanaman yang cepat tumbuh. Bendungan tanah kecil dapat dibuat menyilang aliran selokan liar untuk menahan aliran air, menangkap sedimen, mempertahankan uap air bagi pertumbuhan tanaman, yang akhirnya mengurangi terjadinya erosi.
6)      Lajur-pelindung, penanaman barisan pohon untuk merintangi hembusan angin, mengurangi erosi tanah dan kerusakan tanaman karena partikel-partikel debu yang terbawa angin.


  1. Mencegah penurunan hara tanah
Pencegahan erosi tanah bisa menyelamatkan tanah bagian atas dan melindungi hara tanah yang dibutuhkan untuk persediaan makanan. Beberapa cara untuk mencegah penurunan hara antara lain:
1)      Penggunaan pupuk organik.
Pupuk organik seperti kotoran hewan, sampah, merupakan pemerkaya tanah yang mengisi bahan organik dan hara tanah yang penting seperti nitrogen dan fosfor. Bahan organik lain yang bisa digunakan untuk menyuburkan tanah adalah tanaman leguminosa, yang kita kenal sebagai “pupuk hijau”. Pengayaan tanah dengan pupuk organik dapat: (a) memperbaiki struktur tanah, (b) menaikkan tambatan air, (c) menaikkan kesuburan dan hasil panen, (d) memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan bakteri yang diperlukan bagi perlengkapan nitrogen, (e) membantu dalam mencegah pergeseran keasaman tanah, dan (f) mencegah pelindian mineral-mineral dari tanah oleh hujan.

2)      Penggunaan pupuk buatan misalnya UREA dan ZA.
Pupuk sintetik yang mengandung nitrogen, fosfor, dan kalium bisa mengembalikan kesuburan tanah tetapi tidak mengisi bahan organik atau hara yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman atau nutrisi manusia. Akibatnya kualitas tanah secara perlahan menurun. Kelebihan pupuk buatan bisa terkuras dari tanah oleh air hujan dan terbawa ke dalam aliran sungai, menimbulkan masalah yang berkaitan dengan polusi air.

3)      Penanaman bergilir.
Dalam bidang pertanian saat ini penggunaan pupuk buatan dan pestisida memungkinkan para petani menanam jenis tanaman yang sama dari tahun ke tahun. Dengan cara ini petani bisa memusatkan usahanya pada satu jenis tanaman yang mereka ketahui dengan baik. Namun demikian, cara tersebut tidak benar secara ekologis karena secara perlahan akan menurunkan hara tanah, meningkatkan erosi tanah, dan sering memperburuk masalah pestisida dan hama. Gilir tanam dapat mengembalikan kita pada sistem pertanian yang cocok secara ekologis. Misalnya, setelah menanam padi selama dua tahun, kemudian diselingi dengan tanaman pupuk hijau sebelum menanam padi lagi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar