Minggu, 06 Januari 2013

Membimbing Peserta Didik yang Lamban



Slow Learning atau lamban belajar merupakan salah satu bentuk kesulitan belajar. Peserta didik yang lamban belajar akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran, menganalisa yang dipelajari, dan mengalami kesulitan dalam memahami isi pembelajaran, serta sulit membentuk kompetensi, dan mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Slow Learning menunjuk pada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akibat kelambanan dalam perkembangan terutama perkembangan mental. Kemampuan peserta didik yang lamban belajar lebih rendah dibanding perkembangan rata-rata teman sebayanya. Kelambanan perkembangan ini disebabkan oleh tingkat kecerdasan atau IQ di bawah rata-rata umum atau di bawah normal.

1. Ciri-ciri peserta didik yang lambat belajar
Peserta didik yang tergolong lambat belajar akan menampakkan gejala-gejala yang menjadi ciri-cirinya sebagai berikut :
a. lamban. Peserta didik kelompok lambat belajar lamban dalam menerima dan mengolah pembelajaran, lamban dalam bekerja, lamban dalam memahami isi bacaan, serta lamban dalam menganalisis, dan memecahkan masalah.
b. Kurang mampu. Peserta didik kelompok lambat belajar kurang mampu berkonsentrasi, berkomunikasi dengan orang lain, mengemukakan pendapat, serta kurang kreatif dan mudah lupa.
c. Tidak berprestasi. Peserta didik kelompok lambat belajar prestasi akademisnya rendah dan hasil kerjanya tidak memuaskan.
d. Motoriknya lamban. Peserta didik kelompok lambat belajar, pada umumnya lamban dalam belajar berjalan, terlambat dalam belajar berbicara, serta gerakan-gerakan ototnya kendor dan tidak lincah.
e. Perilaku negatif. Peserta didik kelompok lambat belajar sering memiliki perilaku yang kurang baik, kebiasaan jelek, dan tidak produktif.
2. Memahami latar belakang peserta didik lambat belajar
Untuk memberikan bantuan dan bimbingan  secara tepat, dan berhasil kepada peserta didik yang lambat belajar, perlu dipahami berbagai hal yang melatar belakanginya. Untuk kepentingan tersebut berbagai usaha yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Studi Dokumentasi, yaitu mempelajari catatan-catatan pribadi.
b. Mengumpulkan data baru sebagai pelengkap
Dalam rangka memahami dan mengenal latar belakang peserta didik, sebagai upaya melengkapi informasi yang sudah ada, perlu ditempuh cara lain disamping mempelajari data pribadi peserta didik. Cara lain ini dapat dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut :
a. Home visit (kunjungan rumah), yakni mengadakan kunjungan ke rumah orang tua peserta didik untuk memahami situasi dan kondisi keluarga, dan lingkungannya.
b. Tes psikologi, untuk memahami kemampuan psikisnya
c. Wawancara dengan orang tua atau temannya
d. Observasi terhadap kegiatan peserta didik pada waktu bermain, atau bekerja melakukan tugas kelompok untuk memahami hubungan sosial dengan teman-temannya.
Dari berbagai usaha yang dilakukan di atas akan diperoleh data yang dapat menggambarkan latar belakang peserta didik. Perlu disadari bahwa tidak semua data yang diperoleh relevan dengan masalah, sehingga perlu dilakukan seleksi data. Seleksi data ini perlu dilakukan untuk memilah dan memilih data yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi dan dipecahkan, dengan data yang kurang atau tidak menunjang atau tidak berkaitan dengan masalah yang dihadapi.
B. Membimbing peserta didik yang cerdas di atas normal
Peserta didik yang tergolong cerdas adalah mereka yang memiliki IQ di atas normal. Sistem pendidikan di Indonesia telah menyentuh anak-anak yang luar biasa melalui sekolah-sekolah luar biasa atau sekolah khusus. Namun demikian, sampai saat ini perhatian untuk menyelenggarakan pendidikan khusus kepada anak luar biasa masih terbatas pada anak luas biasa di bawah normal.
1. Ciri-ciri anak luar biasa di atas normal.
Peserta didik yang memiliki kecerdasan di atas normal sebenarnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok. Pertama, kelompok pandai sekali dengan IQ 130 ke atas dan kedua, kelompok pandai dengan IQ antara 110 sampai dengan 130. dua kelompok ini merupakan peserta didik luar biasa di atas normal yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
a. Belajar berjalan dan bicara lebih awal dan cepat menguasai kosa kata dalam jumlah yang banyak.
b. Pertumbuhan jasmani lebih baik, otot-otot kuat, motoriknya gesit (lincah), dan energik.
c. Haus akan ilmu pengetahuan, dan menyukai serta sering mengikuti berbagai perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
d. Mampu secara tepat menarik suatu generalisasi, dapat mengenal hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain.
e. Cepat dalam menerima, mengolah, memahami dan menguasai pembelajaran, prestasinya baik sekali dalam seluruh bidang studi
f. Memiliki rasa ingin tahu (natural curiousity) yang tinggi.
g. Cepat dan tepat dalam bertindak.
2. Prinsip dasar membimbing peserta didik yang cerdas
bebepara hal yang perlu diperhatikan dan dipahami guru dalam memberikan bimbingan kepada peserta didik cepat belajar adalah :
a. Perlu diupayakan untuk mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar memperoleh perkembangan yang optimal, sehingga dapat dicapai suatu kebahagiaan.
b. Bimbingan yang diberikan harus sesuai dengan ciri-ciri khusus serta kebutuhan peserta didik yang cepat belajar
c. Setiap sekolah harus diatur sedemikian rupa, sehingga tercipta suasana yang aman dan nyaman, dan memungkinkan peserta didik cepat belajar mengembangkan seluruh aspek pribadinya.
d. Dalam memberikan bimbingan jangan semata-mata menekankan pada perkembangan aspek intelektualnya saja, tetapi perlu dikembangkan aspk-aspek lain seperti sikap, nilai, mental, moral, emosional, sosial, spiritual dan tanggung jawab.
e. Perlu dikurangi kegagalan dan pemborosan sejauh mungkin dengan jalan mendayagunakan seluruh bakat dan kecerdasan serta kreatifitas peseta didik.
Masalah-masalah yang dihadapi peserta didik cepat belajar pada umunya bersumber dari kondisi-kondisi sebagai berikut :
a. kurang atau tidak adanya pengertian dari pihak pendidik. Mereka tidak mengerti bagaimana memperlakukan peserta didik yang cerdas.
b. Kurang adanya perhatian dari pihak pendidik. Perhatian perhatian pendidik umunya ditujukan kepada peserta didik yang normal, atau ditujukan kepada peserta didik yang lambat belajar.
c. Anggapan yang keliru dari pendidik bahwa peserta didik yang cerdas akan mampu atau bisa memelihara, menjaga dan mengembangkan dirinya sendiri tanpa bimbingan orang lain.
Peserta didik yang tergolong cerdas di atas normal tidak berbeda dengan teman lain, dalam arti sebenarnya mereka juga memerlukan perhatian, perhargaan dan kasih sayang, karena hal tersebut merupakan sebagian dari kebutuhan pokok (basic needs). Namun demikian, dalam kenyataan apa yang dilakukan oleh pendidik baik orang tua maupun guru kurang sekali perhatian kepada mereka. Hal ini disebabkan oleh ketidakmengertian guru dan orang tua tentang cara memperlakukan anak serta adanya anggapan yang keliru seperti disebutkan di atas
C. Individualisme Pembelajaran
Untuk menciptakan suasana pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, hendaknya pembelajaran tidak terbatas pada pembelajaran yang klasikal saja atau pembelajaran massal, apalagi terbatas pada empat dinding kelas, tetapi perlu diupayakan pembelajaran yang mengarah kepada pengajaran individual. Sehubungan dengan itu, guru perlu melakukan upaya-upaya untuk melakukan individualisasi pembelajaran. Individualisasi pembelajaran dimaksudkan sebagai bentuk pembelajaran yang dapat melayani perbedaan peserta didik dan sesuai dengan kemampuan, tempo belajar, minat, dan nafsu belajar masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar